"UMKM Mendadak Digitalisasi"
Oleh: Toman Sony Tambunan
(Aparatur Sipil Negara, Akademisi, Pembelajar, Penulis Buku,
Praktisi, Peneliti, Konsultan, Editor Buku, Reviewer Jurnal)
Wabah virus Covid-19 saat ini semakin terasa dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri, terutama dari sisi konsumsi, korporasi, sektor keuangan, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). selain itu, wabah ini juga mempengaruhi sisi rantai pasok (supply chain) dunia usaha dari hulu hingga ke hilir.
Akibat pandemi Covid ini, perilaku konsumen sekarang berubah baik dari sisi perilaku bertransaksi maupun pemesanan barang maupun jasa. Ini memerlukan inovasi dan kreasi dari pelaku UMKM semua, bagaimana supaya bisnis tetap jalan dengan perubahan situasi ini
Pengalaman pada berbagai krisis ekonomi mengajarkan Indonesia bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berperan sebagai tulang punggung dan penyangga yang menyelamatkan Indonesia dari berbagai masalah ekonomi. Sisi yang kini banyak disorot untuk mendukung UMKM, utamanya di masa pandemi COVID-19 adalah percepatan transformasi digital.
Saat ini telah terjadi pergeseran tren baru belanja online di kalangan masyarakat yang makin meningkat selama masa pandemi ini. Masyarakat saat ini lebih cenderung memilih belanja secara online atau ‘Mendadak Digital’.
Dalam situasi serba sulit seperti saat Pendemi Covid-19 ini, banyak sektor UMKM yang mampu bertahan bahkan penjualannya meningkat karena terhubung dengan ekosistem digital. Namun baru 10-11 juta UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital.
Di saat yang sama, banyak sekali anak muda yang hadir dengan inovasi membantu UMKM untuk go digital”. Untuk bertahan, UMKM perlu beradaptasi dengan kondisi akibat pandemi Covid-19, salah satunya memasuki ekosistem digital. UMKM digital produktif kunci pemulihan ekonomi. Pelaku UMKM domestik harus bisa bangkit dengan segera tergabung ke dalam ekosistem digital. Sebab, UMKM digital produktif merupakan kunci pemulihan ekonomi nasional.
Berdasarkan data McKinsey sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, penjualan via e-commerce naik tajam mencapai 36 persen per harinya. Atau total sebanyak 3,8 juta transaksi.
Namun, berdasarkan data pemerintah hingga pertengahan 2020, baru sekitar 8 juta UMKM yang memanfaatkan penjualan secara digital. Ini setara 13 persen dari total populasi UMKM di Indonesia.
Tingginya trend transasaki ini, menjadi kesempatan bagi sektor UMKM untuk cepat masuk ekosistem digital. UMKM harus mampu menjadi pemain di pasar lokal maupun global.
Maka dari itu, perlunya peningkatan kerjasama antara Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, hingga asosisasi, dapat mendorong sebanyak mungkin sektor UMKM memasuki ekosistem digital. Sehingga bersaing di pasar domestik dan pasar global.
Catatan: 10 Juli 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar