Neurosains dalam Pendidikan (Bagian 2)

 "Neurosains dalam Pendidikan (Bagian 2)"

Oleh: Toman Sony Tambunan
(Aparatur Sipil Negara, Akademisi, Pembelajar, Penulis Buku, Praktisi, Peneliti, Konsultan, Editor Buku, Reviewer Jurnal)

 Ruang lingkup kajian neuroscience meliputi empat dimensi, yaitu: Pertama, Molekuler yaitu berbagai macam sel saraf dan sistim kerjanya dalam menghasilkan berbagai perilaku yang kompleks. Kedua, Sistim Saraf Biding, yaitu berbagai macam sel-sel saraf yang terlibar dalam suatu sistem yang kompleks, misalnya masalah penglihatan dikaji dalam sistem visual. Ketiga, Neurosains Perilaku, yaitu cara kerja sistim syaraf dalam menghasilkan perilaku tertentu, misalnya bagaimana saraf visual, saraf auditori, saraf motorik memproses informasi (materi pelajaran) secara simultan. Keempat, Neurosains Sosial yaitu peran otak manusia dalam membantu manusia membentuk hubungan dengan orang lain.

Indonesia Neuroscience Society telah memetakan cakupan kajian neurosains, yaitu:
Pertama, Clinical Neuroscience, merupakan neurosains klinis berupa spesialisasi medis seperti neurologi, bedah saraf, psikiatri, dan profesi kesehatan terapan non-dokter, misal terapi wicara.
Kedua, Educational Neuroscience, merupakan neurosains pendidikan dengan menambahkan pendekatan neurosains mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi. Bidang neurosains pendidikan mulai menemukan bentuknya pada ilmu saraf. Educational neuroscience adalah bidang kajian neuroscience yang fokus mengkaji konsep pendidikan secara transdisiplin dari perspektif neuroscience. Konsep pembelajaran dalam perpektif neuroscience adalah pembelajaran yang memberdayakan kemampuan otak sesuai tahap perkembangannya dan mengoptimalkan kinerja otak melalui penciptaan lingkungan belajar yang menantang, menyenangkan, bermakna, dan mendorong siswa menjadi aktif. Educational neuroscience adalah model pendidikan masa depan yang memberikan pemahaman kepada tenaga pendidik bagaimana cara memberikan stimulus yang tepat dalam mengembangkan perilaku dan keterampilan peserta didik.
Ketiga, Cognitive Neuroscience atau neurosains kognitif merupakan studi kognitif tentang sustrat biologic yang mendasari kognisi dengan lebih spesifik pada substrat saraf dari proses mental, terutama soal belajar memori, persepsi, dan berpikir.
Keempat, Social and Cultural Neuroscience atau neurosains sosial-budaya merupakan bidang interdisipliner yang ditujukan untuk memahami bagaimana sistim biologic diterapkan dalam perilaku sosial.
Kelima, Development Neurocience atau studi neurosains perkembangan merupakan berbagai proses yang menhasilkan bentuk dan membentuk kembali sistem saraf serta berupaya untuk menjelaskan dasar seluler dari perkembangan saraf guna mengatasi mekanisme yang mendasari suatu gangguan.
Keenam, Neuroscience, Health and Spirituality, merupakan studi tentang hubungan spiritualitas, kesehatan spiritual dengan kesehatan fisik terutama kesehatan otak.
Ketujuh, Cellular and Molecular Neuroscience, merupakan studi neurosains pada tingkatan molekuler dan genetic untuk mendapatkan pemahaman lebih jelas dan utuh tentang gangguan penyakit, atau seluk beluk perilaku manusia.
Kedelapan, Nutritional Neuroscience, merupakan studi tentang hubungan nutrisi dengan otak, baik untuk pencegahan, pengobatan maupun peningkatan kemampuan otak. Nutrisi diketahui merupakan bagian penting bagi otak. Artinya, terdapat jenis- jenis nutrisi yang secara spesifik sangat bergizi bagi otak sehingga otak dapat bekerja lebih optimal.
Kesembilan, Neurotica and Criminical Neuroscience, merupakan studi tentang hubungan otak dan kekerasan.
Kesepuluh, Drugs Addiction and Neuroscience, merupakan studi gangguan otak yang difokuskan pada obat. Studi ini dimaksudkan untuk menjelaskan dan mencari jalan keluar bagi penyalahgunaan obat pada level individu dan kolektif. Sejak ditemukannya bahwa otak dapat memproduksi zat endorfin, banyak terapis yang memanfaatkannya untuk terapi kasus narkoba.
Kesebelas, Psychoneuroimmunology: studi tentang hubungan otak, jiwa, dan sistem kekebalan tubuh. Penekanan studi ini adalah kekebalan tubuh kaitannya dengan jiwa dan otak.
Keduabelas, Neuroscience Computational, Neuro-bioinformatics dan neuroengineering, merupakan studi tentang pemanfaatan neurosains dalam hiding komputer, seperti robot dan kecerdasan artificial, termasuk juga peranti-peranti teknis dan elektronik yang digunakan untuk meningkatkan fungsi otak atau mengatasi gangguan otak.

Catatan: 10 Juli 2021


Tidak ada komentar:

Posting Komentar