Hybrid Learning

 "Hybrid Learning"

Oleh: Toman Sony Tambunan
(Aparatur Sipil Negara, Akademisi, Pembelajar, Penulis Buku, Praktisi, Peneliti, Konsultan, Editor Buku, Reviewer Jurnal)

 Perkembangan teknologi telah mendorong munculnya berbagai inovasi model pembelajaran di bidang pendidikan. Berbagai model pembelajaran inovatif muncul sebagai alternatif solusi guna mengatasi permasalahan [ada metode pembelajaran tradisional atau konvensional. Salah satu aplikasi teknologi informasi dalam bidang pendidikan guna mendukung proses pembelajaran yang efektif adalah melalui pengembanga e-learning. Metode pembelajaran berbasi e-learning yang dapat digunakan adalah ”Hybrid Learning”.

Hybrid learning adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan inovasi dan kemajuan teknologi melalui pembelajaran berbasis dalam jaringan (system online learning). Hybrid learning merupakan metode pembelajaran campuran, antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dalam jaringan. Metode pembelajaran campuran ini mengizinkan sebagian peserta didik untuk belajar tatap muka di kelas dan sebagian lagi tetap belajar melalui dalam jaringan (daring). Lebih lanjut, tenaga pendidik akan menyampaikan atau menjelaskan materi pembelajaran melalui media layar, sehingga para peserta didik yang belajar daring pun bisa merasakan interaksi. Metode hybrid learning diharapkan tetap bisa mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Ada lima kunci utama dalam penerapan proses pembelajaran hybrid learning, yaitu:
1. Live Event, artinya metode pembelajaran langsung atau tatap muka yang dilakukan secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama. Atau, pembelajaran dengan waktu yang sama tetapi dilakukan pada tempat yang berbeda. Hal ini juga bisa disebut sebagai pembelajaran secara ”Face to Face”, dimana proses pembelajaran secara tatap muka yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pembelajaran langsung di dalam kelas, kegiatan praktikum di laboratorium atau workshop, mentoring ataupun on job training. Kegiatan pembelajaran di dalam kelas meliputi penyampaian materi secara tatap muka, diskusi, presentasi, latihan, dan ujian (test).
2. Self-Paced Learning, artinya mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri yang memungkinkan peserta didik untuk melakukan belajar pada waktu kapan saja dan dimana saja secara dalam jaringan (daring). Hal ini juga disebut dengan ”Self-Pace Asynchronous” yaitu model belajar mandiri yang dilakukan dalam waktu berbeda, dan peserta didik dapat mempelajari materi yang disampaikan oleh tenaga pendidik dalam bentuk bahan ajar atau modul maupun mengerjakan tugas serta latihan secara dalam jaringan (online). Sleanjutnya, melalui self-pace asynchronous, maka peserta didik dapat mempelajari materi-materi pembelajaran dengan cara bergabung atau mencari (link) ke sumber-sumber ajar lainnya.
3. Collaboration, artinya bentuk kolaborasi atau kerjasama antara tenaga pendidik dengan peserta didik, dan juga kolaborasi antara sesama peserta diidk dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan kolaborasi ini, bisa dilakukan dalam dua bentuk, yaitu:
Pertama, ”Synchronous virtual collaboration” yaitu metode pembelajaran yang bersifat kolaboratif dengan melibatkan interaksi antara tenaga pendidik dan peserta didik yang dilakukan pada waktu yang sama. Kegiatan kolaborasi ini dilaksanakan dengan memanfaatkan Instant Messaging (IM) atau Chat. Fasilitas ini dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi antara tenaga pendidik dan peserta didik pada saat jam pembelajaran (atau jam kerja).
Kedua, Asynchronous Virtual Collaboration, adalah metode pembelajaran yang melibatkan interaksi antara tenaga pendidik dan peserta didik yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Fasilitas pendukung yang digunakan dalam proses pembelajaran ini adalah melalui forum diskusi (online discussion board) dan e-mail.
4. Assesment, artinya tenaga pendidik harus mampu menyusun atau menggunakan kombinasi jenis penilaian (evaluasi) dalam jaringan (daring) atau luar jaringan (luring). Penerapannya berupa pengujian (tes) maupun penyelesaian tugas proyek kelas (non-tes).
5. Performance Support Materials, merupakan kegiatan untuk memastikan bahan materi pembelajaran disiapkan dalam bentuk digital. Tujuannya agar bahan materi pembelajaran tersebut dapat dengan mudah diakses oleh setiap peserta didik yang sedang mengikuti proses pembelajaran, baik secara dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Metode penilaian atau evaluasi pembelajaran hybrid learning mencakup evaluasi atau hasil capaian pembelajaran untuk mengukur penguasaan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ujian dapat dilakukan secara tata muka di sekolah atau dilakukan secara daring.



Catatan: 10 Juli 2021


Tidak ada komentar:

Posting Komentar