"Liberal Art Education"
Oleh: Toman Sony Tambunan
(Aparatur Sipil Negara, Akademisi, Pembelajar, Penulis Buku,
Praktisi, Peneliti, Konsultan, Editor Buku, Reviewer Jurnal)
Penerapan konsep ”Liberal art education” dalam pendidikan tinggi adalah dengan mewajibkan setiap mahasiswa yang mengambil jurusan tertentu untuk mengikuti mata kuliah lainnya di luar jurusan utamanya selama satu atau dua semester secara penuh. Sisanya, mahsiswa secara bebas memilih hal apa saja yang ingin mereka pelajari, tetapi yang utama adalah mendukung peningkatan keterampilan atau pengembangan potensi ang dimiliki. Urgensi dari konsep seperti ini adalah dengan memberikan kesempatan seseorang belajar mata kuliah lainnya di luar jurusan utamanya merupakan suatu upaya untuk melihat fenomena secara utuh dan berpikir interkonektif, dan mencoba untuk mengajak mahasiswa untuk membiasakan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kemampuan ini lah yang diharapkan bisa bertumbuh ketika seseorang mengikuti konsep liberal art education, dimana seseorang dapat tumbuh sebagai manusia yang bisa berpikir, atau disebut dengan ”Human Skill”. Dengan memiliki human skill yang baik, maka seseorang dapat dihargai di mana pun dia berada, karena secara independen seseorang dapat memahami bahwa segala sesuatu memiliki keterhubungan.
Liberal Art Education mencoba untuk mengarahkan seseorang menjadi ”generalis”, atau dalam pengertian sederhananya adalah seseorang yang memahami sedikit dari yang banyak. Seseorang yang generalis tidak memiliki keahlian khusus, tetapi ia mengerti konsep dasar dari setiap hal dan mampu membuat hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Liberal Art Education berperan dalam mendukung kreativitas dan inovasi seseorang. Oleh karenanya, para entrepreneur, para kreator atau inovator bertumbuh dari seseorang yang ”generalis”.
Catatan: 10 Juli 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar